Tuesday, May 22, 2018

Pejuang Dua Puluh Ribu

Sudah lama sebenarnya berniat posting mengenai hal ini, tapi sering tertunda. Entah karena malas atau lupa, atau dua-duanya, hehe. Pas kebingungan mau nulis apa buat "30 Days Writing Challenge", kemudian teringat kembali tentang ini.

Ceritanya saya adalah salah satu orang yang percaya banget bahwa menabung itu sangat penting untuk masa depan. Tapi di sisi lain, saya juga termasuk orang yang jarang menabung. Kadang kala kalau rajin menabung pun, satu atau dua bulan kemudian uang tabungannya sudah tandas tak bersisa.

Menyiasati hal itu, beberapa macam metode menabung pun saya coba lakukan. Mulai dari mengalokasikan pos untuk tabungan di awal, pakai tabungan berjangka, ikut arisan uang tapi minta dapat terakhir, menabung recehan, menabung 5 atau 10ribu per hari, menabung berapapun tiap hari di celengan yang nggak tembus pandang, bikin rekening baru khusus buat nabung, hingga yang ekstrim, menabung harian sesuai tujuan finansial yang ingin dicapai.

Kenapa saya bilang ekstrim? Begini, metodenya adalah mengidentifikasi tujuan finansial jangka pendek, mulai dari butuh berapa dan kapan waktu dibutuhkannya. Bisa jadi ada hanya satu tujuan finansial atau mungkin lebih. Dari masing-masing tujuan finansial, dibuat breakdown per hari. Harus menabung berapakah setiap harinya agar tujuan finansial tersebut bisa tercapai tepat pada waktunya. Sebagai contoh, tujuan finansialnya adalah butuh untuk bayar hutang 10 juta dalam waktu sepuluh bulan ke depan. Maka 10 juta dibagi 10 bulan. Per bulan harus bisa mengumpulkan 1 juta. Angka 1 juta itu dibreakdown lagi per hari. Misal ada 30 hari jadi setiap harinya harus bisa menabung minimal 34.000. Kalau ada tujuan finansial yang lain, dibreakdown juga dan yang harus dikumpulkan perhari akumulasikan dg hasil breakdown tujuan finansial yang lain.

Karena tujuan finansial jangka pendek saya waktu itu sangat banyak, ada lebih dari 5 item dan masing-masing jumlahnyabbesar dan dibutuhkan dalam waktu dekat, maka uang yang harus ditabung per hari juga cukup besar. Berkisar 450 ribu per harinya. Celengannya isi 50 sama 100rebuan, Bok! Alhasil terkadang belum sampai tanggal 15, bahkan tanggal 10, dompet sudah sangat tipis. Tiada lagi uang di tangan. Efek positinya adalah saya jadi rajin banget jualan bukunya, haha. Omset naik hampir 3 kali lipat gara-gara itu. Tapi kemudian dalam waktu 3 bulan zonk, saya terlalu lelah jiwa dan raga. Menurut saya metode ini perlu segera diakhiri karena nggak saya banget, sama sekali tidak sesuai dengan kepribadian saya😅

Akhirnya sampailah saya pada suatu metode yang membuat lebih semangat menabung, yaitu metode menabung pecahan 20ribu. Pertama kali tau metode ini kalo nggak salah dari baca tulisan Ippho Santosa. Istilah kerennya "The Power of 20.000", sementara orang yang nabung disebut pejuang 20ribu.


Metode menabung pecahan 20 ribu adalah kita harus mengkondisikan diri agar setiap bertemu dengan pecahan 20 ribu, kita menabungnya. Mau uang cuma tinggal 20 ribu, tabung. Uang di dompet 20 ribuan semua pun, tabung juga. Walau kemudian tidak ada yang tersisa... Yang jelas tiap ketemu uang 20ribuan, maka uang tersebut tidak boleh dibelanjakan, dipinjamkan, atau ditukar dengan pecahan lain. Uang pecahan 20 ribu hukumnya satu, tiada lain kecuali hanya boleh ditabung.

Saya memilih menabung pecahan 20ribu di toples, lalu tiap bulan saya setorkan ke bank, rekening khusus untuk (salah satu) tujuan finansial impian saya.

Kenapa harus dua puluh ribu? Barangkali itu menjadi pertanyaan teman-teman ya...
Pecahan 20 ribu bisa dibilang agak nanggung dan biasanya lebih jarang ditemui dibandingkan pecahan lainnya. Bayangkan kalau menabung pecahan 50rb atau 100rb! Saat butuh bayar sesuatu dalam jumlah besar, kebayang ga kalo harus pake pecahan kecil? Yang ada berat! Masak bayar 10 juta pakai pecahan 10ribu sebanyak seribu lembar? Sungguh tidak efisien, waktu banyak terbuang bahkan hanya untuk menghitung saja. Lagipula, kalau seseorang pas butuh cash banget, dia nggak akan pernah berhasil mengambil uang dari ATM. Lha ATM-nya cuman ada pecahan 50rn atau 100rb. Begitu uangnya keluar dari mesin ATM, uangnya otomatis harus ditabung lagi.

Menabung menggunakan pecahan seribu-dua ribu juga tidak efisien. Kapan bisa ngumpul banyak? Kita juga sering butuh pecahan uang ini untuk parkir, bayar angkot, uang saku anak, beli jajanan, dan sebagainya. Uang pecahan 5ribu dan 10ribu pun juga demikian. Lebih sering jadi alat pembayaran, misal parkir mobil 5rb, minuman botol juga sekitar 5rb, beli bubur ayam 10rb, bayar ojek 10rb, dan seterusnya. Sementara kalau harus membayar sesuatu seharga 20rb, kita bisa menggantikannya dengan uang pecahan yang lebih kecil.

Uang yang pecahannya semakin sering dibutuhkan atau dipakai untuk bertransaksi, biasanya akan menjadi cobaan tersendiri yang lama-lama bisa bikin males nabung.

Kembali ke menabung 20 ribuan. Kelebihan metode ini adalah pikiran saya membentuk mindset baru, meyakini bahwa 20ribu itu hanya untuk ditabung. Jadi begitu dapat kembalian 20 ribuan, otak saya menyatakan "Stop! Jangan dipake buat belanja apapun!", otomatis uangnya langsung masuk ke toples tersendiri.

Yang menyedihkan cuma satu, kalau bayar pakai 50 atau 100 ribu lalu tiap kembalian, dapatnya 20ribuan terus😭😭😭
Langsung deh gak selera beli apa-apa lagi😫

Banyak yang sudah berhasil menggunakan metode ini. Search aja testimoninya di google, "pejuang 20 ribu". Saya sendiri baru berhasil konsisten mengumpulkan 20 ribuan selama setahun sampai dua tahun belakangan untuk membiayai salah satu cita-cita yang butuh uang cukup banyak. Itupun baru 60%, tahun ini semoga terwujud 100%😇

Tidak menampik metode yang lain, kadang saya mengkombinasikan beberapa metode sekaligus. Hanya saja metode 20 ribuan ini pasti dan selalu saya lakukan.

Yuk nabung! Mau coba menjadi pejuang 20 ribu juga? Share versi menabungmu di komentar yaaa... 😉

#30dwc
#30dwcjilid13
#squad7
#day6

No comments:

Post a Comment