Sunday, July 30, 2017

Dunia Pendidikan, I'm Coming!

Dulu, pas zaman masih anak-anak sampai remaja menjelang dewasa, saya anti banget punya cita-cita jadi guru. Apa pasal? Sederhana! Terlalu banyak anggota keluarga besar yang bekerja di dunia pendidikan. Waktu itu pengen jadi yang lain aja, asal bukan guru dan profesi lain dalam bidang pendidikan.

Sewaktu kuliah, lalu bekerja saya mulai merasa agak ganjil. Hehe... ganjilnya karena ternyata justru saya ingin jadi guru, tepatnya guru TK. Mulai suka dengan dunia pendidikan dan sempat beberapa kali memiliki lintasan pikiran untuk bekerja di dunia pendidikan. Dan mungkin ke dunia itulah saya akan menuju :)

Miris rasanya kalau baca atau nonton berita zaman sekarang, banyak kerusakan sosial terjadi di mana-mana. Orang dengan mudah mengambil hak milik orang lain, tak terbatas pada harta benda, melainkan juga kehormatan dan nyawa. Terkadang hanya untuk alasan yang receh. Tawuran, bunuh diri, perselingkuhan, pembunuhan, pemboman, penyiraman air keras. Kejahatan dengan jutaan rupanya. Dan sangat sering pelakunya justru orang-orang yang ada di lingkaran terdekat. Horor! Saya sampai mengurangi kadar baca ataupun nonton berita. Banyakan yang negatif sih. Hal-hal semacam ini juga mulai menjalari lini masa media sosial saya. Huft, ngurangi main medsos juga deh :( Menyinggung soal medsos, banyak juga hal yang bikin saya jadi agak jengah. Di medsos, setiap orang bisa jadi profesor ahli bidang tertentu yang membodoh-bodohkan orang lain. Besoknya berganti rupa menjadi profesor di bidang yang lain lagi yang masih gemar merasa paling pintar. Padahal ilmunya? Mungkin baru saja didapat dari judul berita situs-situs tak jelas kredibilitasnya. Hal-hal tersebut yang membuat saya ingin nyemplung di dunia pendidikan. Yah... walau saya juga masih kurang banyak belajarnya. Masih kurang rajin membacanya. 

Di dunia pendidikan, saya kelak ingin berfokus dengan wanita dan anak-anak. Al ummu madrasatul ula, katanya. Ibu, adalah di mana tempat peradaban bermula. Lalu anak-anak? Sepuluh sampai dua puluh tahun lagi, merekalah yang kelak akan mewarnai dunia. 

Ide yang ingin saya angkat adalah bagaimana saya bisa menjalankan bisnis kreatif di dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas diri wanita dan anak-anak melalui ilmu. 

Kenapa harus bisnis? Nyari untung dong?
Iyalah nyari untung, Kakak! Melakukan kegiatan yang sifatnya sosial justru membutuhkan lebih banyak uang. Oleh karena itu, saya ingin membuat bisnis yang juga bisa sekaligus menyelesaikan isu-isu sosial di atas. Supaya ide ini bisa dijalankan terus secara berkelanjutan. Supaya ide ini terealisasi tanpa mandeg di tengah jalan. Supaya ide ini bisa menjadi solusi yang menjangkau banyak orang. Mengingat di dunia ini nggak ada yang gratisan, hehe... Beli tanah, pakai uang. Bangun gedung, pakai uang. Meminta bantuan orang, pakai uang. Masak sih nggak ada yang mau bantu cuma-cuma. Ya adalah mungkin... Tapi kalo minta bantuannya ke dokter, perawat, guru, arsitek, psikolog dan berbagai profesi lainnya sekaligus, apa iya cuma dibayar terima kasih dan doa? Helloooo...udah 2017 ini, hihi :D

Bentuknya bisnisnya seperti apa?
Saya membayangkan sebuah pusat belajar untuk ibu-ibu dan anak-anak. Tempatnya luas, ada daycare, ruang-ruang kelas untuk kajian-workshop-diskusi-tahfidz-pelatihan bisnis-dan sebagainya, fasilitas penunjang perpustakaan dan toko buku, entah apalagi. Ada banyak wanita yang akan menjadi guru di sana. Mengajar lebih banyak wanita lainnya, juga anak-anak dengan wajah polosnya. Tentu saja konsepnya tidak seperti yang sudah ada. Misalnya nih, kalo biasanya ibu-ibu nunggu anak sekolah saling ngobrol di kantin atau tempat lain. Di pusat belajar itu, anak-anak belajar... para ibu juga belajar. Maisng-masing belajar hal-hal yang menarik dengan menyenangkan sesuai usia mereka. Anak-anak sedari kecil akan belajar mengenai agama dan akhlak (mungkin mirip-mirip yang pernah saya baca tentang sekolah TK di Jepang), juga hal-hal yang sifatnya kemampuan dasar. Di tingkat selanjutnya tidak perlu diajarkan semua materi seperti di sekolah kebanyakan saat ini. Mereka bisa ikut kelas pengenalan terhadap beberapa bidang untuk mencari tahu di mana minatnya, lalu langsung sedari kecil diarahkan pada pembelajaran yang sesuai dengan minatnya. Biar jadi para ahli di bidangnya. Seru deh pokoknya kalo di bayangan saya, hehe... 

Agar lebih mudah, saya tuangkan dalam bentuk tabel seperti ini...

NHW 9 Saya untuk Kelas Remedial Matrikulasi IIP Batch 4 

Tapi teteplah ya... Mulainya dari diri sendiri dulu. Semoga bisa mewujudkan impian ini, segera :)

1 comment:

  1. Wah iya, ibu2 sambil menunggu anak, juga bisa sekalian belajar dan bertukar ilmu. Semoga impiannya bisa segera terwujud ya mba.

    ReplyDelete