Friday, October 11, 2013

Rumah Tanpa Jendela

Hari Ahad lalu saya melihat salah satu channel televisi swasta menayangkan tentang kehidupan muslim Rohingnya yang dimusuhi karena iman mereka. Akibatnya sampai saat ini mereka masih hidup di pengungsian yang tidak bisa dikatakan layak untuk ditinggali, dan mereka hidup di sana sudah lebih dari satu tahun!

Seperti yang sudah-sudah, saya mewek-mewek sendiri hampir sepanjang acara. Langsung bersyukur sesyukur-syukurnya, keluarga kecil saya sudah tinggal di rumah sendiri walau produk BTN alias Beli Tapi Nyicil :p Dan menyesalnya, kenapa kemarin-kemarin saya masih sempat mengeluh banyak tentang rumah yang ditempati saat ini. Semoga saja keluhan-keluhan kemarin itu tidak dicatat malaikat sebagai perbuatan kufur nikmat, melainkan unsur khilaf saja.
Gegara itulah saya jadi punya ide untuk tema #31hariberbagibacaan, mengubek-ubek rak buku dan ketemulah...... Taraaaaaa..... buku ini :D


Judul                       : Rumah Tanpa Jendela (Novel)
No. ISBN                 : 978-979-709-546-8
Penulis                     : Asma Nadia
Penerbit                  : Kompas
Tanggal terbit        : 2011 
Halaman                  : 180

Yang akan saya resensikan kali ini hanya novelnya saja ya, skenarionya tidak. Karena dari pertama beli tahun 2011 lalu sampai dengan sekarang, saya memang tidak hendak berencana membaca skenarionya. Naskah skenarionya ikutan dibeli hanya karena satu paket dengan novelnya saja.

Untuk membaca novel ini sampai habis, saya membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Hampir semalaman. Hampir semua buku-buku Asma Nadia yang saya baca mampu membuat mata saya menganak-sungai. Hiks...

Rara, alkisah adalah seorang bocah perempuan piatu penghuni sebuah rumah tak berjendela di perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta. Mimpinya sederhana, ia ingin memiliki jendela untuk rumah tripleksnya. Satu saja, agar dari dalam rumah bisa dilihatnya keindahan bulan tiap malam... atau kupu-kupu dan yang beterbangan di siang harinya, dan juga untuk melihat ramainya rintik hujan dari dalam rumahnya.

Dalam novel ini dibahas keseharian Rara bersama teman-temannya di perkampungan kumuh tersebut. Keluguan mereka, karakter-karakter mereka yang unik dan sering membuat saya tertawa di kala membaca, salah satunya Akbar yang gagap sehingga teman-temannya suka menjahili.

Pertemuan anak-anak kampung kumuh dengan Aldo dan keluarganya. Aldo, adalah seorang penderita down syndrome yang lahir di tengah keluarga kaya. Kehidupan mereka yang diwarnai oleh Bu Alia di rumah baca. Sungguh-sungguh kisah yang sangat menyentuh.

Dari kesemuanya, ada dua bagian di novel ini yang membuat isak saya makin menjadi. Yang pertama adalah ketika Bapak Rara berhasil membeli kusen jendela bekas. Subhanallah, merinding rasanya. Cinta yang begitu besar dari orang tua untuk anaknya. Bagaimanapun susah-payahnya, orang tua pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk mewujudkan impian sang anak meski harus membanting tulang. Lalu yang kedua, bagian setelah itu. Saat Bapak Rara pulang membawa kusen jendela bekas di tangannya dan menemukan rumahnya dikepung oleh si jago merah bersamaan dengan rumah-rumah lain di perkampungan itu. Dengan heroiknya, sang bapak menerobos kobaran api demi menyelamatkan keluarganya. Saya benar-benar terharu. Mengingat sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu sering bermain ke perkampungan kumuh dekat kampus. Kebanyakan saya dapati anak-anak kecil yang tidak dididik orang tuanya dengan baik, anak-anak polos yang kentara sekali kalau kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Seringkali mereka memeragakan cara orang tua mereka memperlakukan mereka kepada teman-teman mereka. Yang orang tuanya biasa marah-marah dengan berkata kasar, maka anak-anaknya dengan mudah membentak temannya dengan kata-kata kasar yang bahkan mereka sendiri tidak tau apa itu artinya. Yang orang tuanya biasa "menggerakan tangan" dengan ringan untuk menyampaikan sesuatu pada anak-anaknya, maka anak-anaknya pun suka main tangan. Salah sedikit saja berimbas pada bunyi "plak!". Ah, andai tiap orang tua di sana punya jiwa kasih sayang seperti Bapaknya Rara.

Di tengah cerita, saya merasa terganggu dengan cerita antara Bu Alia dengan Kak Adam dan Andini dengan pacarnya Billy. Pengennya saya skip saja dari buku ini, hehe. Hal lain yang menjadi catatan saya untuk buku ini adalah ekspektasi saya yang cukup besar pada bagian penutup tidak terjadi. Kisah Aldo dan keluarganya yang kaya cukup mudah ditebak kelanjutannya. Buat saya sebagai pembaca, kisah keluarga Aldo ini sering berulang dalam cerita-cerita televisi seperti sinetron. Meski begitu, saya berpikir bagian ini tidak harus dihilangkan, saya hanya berharap mendapatkan sesuatu yang lain entah dari cara atau bahasa penulis menceritakannya. 

Di luar kisah itu, yang saya tidak habis pikir, bagaimana proses kreatif Asma Nadia dalam menangkap hal yang sederhana lalu mampu mengolahnya menjadi karya indah. Tidak banyak orang yang berpikir bahwa jendela bisa dijadikan sebuah cerita, apalagi cerita yang menginspirasi. Tapi lain halnya dengan penulis satu ini, dari sebuah jendela milik Asma Nadia, kita mampu menangkap berbagai hikmah.

Setelah panjang lebar, akhirnya saya harus kembali mengaku pada realita, bahwa berkomentar sangatlah mudah, dan tidak mudah membuat kisah inspiratif yang semacam ini. Membuat kita berpikir dan ingin selalu mendekat kepada-Nya. Simaklah quote indah yang menutup kisah ini. Nasihat seorang ibu kepada anaknya.
Allah pasti mengabulkan setiap doa, Ra. Tapi kadang ada doa-doa lebih penting yang harus didahulukan.
Empat dari lima bintang saya persembahkan untuk novel ini. 

1 comment:

  1. aku suka banget sm film nya, sepertinya novelnya jg bagus ^^

    ReplyDelete