Thursday, October 17, 2013

Catatan Hati Ibunda



Judul                       : Catatan Hati Ibunda 
No. ISBN                 : 978-602-9055-19-1
Penulis                     : Asma Nadia, dkk
Penerbit                  : Asma Nadia Publishing House
Tanggal terbit        : 2013 
Halaman                  : 293

***

Buku ini sengaja saya beli dalam rangka persiapan belajar menjadi seorang ibu, dalam rangka #31hariberbagibacaan juga sih... Dua tahun lebih pernikahan saya dan suami, sampai saat ini kami belum dikarunia bayi kecil yang suara tawa-teriakan-tangisannya memenuhi penjuru rumah. Jadi, saya pikir ada baiknya memulai banyak belajar sebagai persiapan menjadi orang tua sebelum yang dinanti-nanti tiba :)

Dulu sebelum tahu dan merencanakan akan menikah pun, saya memulai banyak membaca buku-buku pernikahan, tentang kehidupan rumah tangga, dan sejenisnya -yang beberapa di antaranya ditulis oleh Asma Nadia. Barulah ketika persiapan saya sudah cukup memadai, Allah memercayakan kepada saya untuk menjadi seorang istri. Tiba-tiba saja si calon suami datang tak dijemput pulang tak diantar, hehe.... Berharap dengan persiapan yang matang pula, nanti Allah juga mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.

Buku ini, memenuhi ekspektasi saya atasnya. Tujuan saya membeli buku ini karena memang ingin mengetahui gambaran menjadi seorang ibu. Dan saya sukses dibuat terharu-menangis-dan tertawa oleh buku ini! Bener-bener catatan hati para ibu deh...

Ada cerita para ibu saat anak tercinta sakit, ada pula cerita mengenai perjuangan melahirkan bayi yang dinanti, cerita saat si ibu sedang kelelahan tapi si anak menguji emosi, jauh dari anak, ibu yang single parent, sampai kisah ibu yang kehilangan buah hati. Entah saya yang terlalu cengeng atau kebanyakan kisahnya yang memang mengharukan, berderai-derailah air mata saya seperti hujan yang tumpah dari langit. *lebay.com. Kapan sih saya nggak menangis kalo lagi baca buku? Jarang kayaknya! Tapi yang membuat berbeda adalah, kalo biasanya nangis hanya di satu atau beberapa bagian, buku ini membuat tangis haru saya hampir nggak berhenti di setiap bab baru. Dari 19 kisah, mungkin 3 atau 4 kisah yang tidak berhasil membuat saya menangis.

Cerita yang paling membuat saya penasaran adalah kisahnya Mba Sinta Yudisia. Kenapa? Karena judulnya "Demonstran!" Apa hubungannya coba? Anak dengan demonstran? Coba baca bagian ini...
... Jangan berharap mereka akan senantiasa menurut, patuh, dan taat pada setiap perintah yang kita ucapkan. Mereka dan kita adalah pribadi yang berbeda. Lazimnya sebuah pemerintahan yang otoriter, akan lahir para demonstran yang menyerukan keadilan. Bersuara lantang memprotes kebijakan yang dianggap berat sebelah.
Deg! Huahahahahahaha... *ketawa guling-guling. Terbayang para balita demo bawa papan yang isinya penuh dengan kalimat protes.

Dibandingkan dengan buku keroyokan lainnya, buku ini bisa dibilang lebih menyenangkan. Perbedaan gaya bahasa antara penulis yang satu dengan yang lainnya tidak terlalu mencolok sehingga pembaca bisa sangat menikmati lembar demi lembar cerita dalam buku ini. Bahasa cukup ringan dan mengalir. Layout yang cantik dan tidak terlalu padat membuat saya mampu menghabiskan buku ini dengan kilat.

Namun dari berbagai kelebihannya ada beberapa bagian kisah dalam buku ini yang membuat saya berusaha keras untuk menemukan sisi menariknya, mungkin karena bahasa yang digunakan oleh beberapa penulis kurang hidup.

Overall, empat dari lima bintang untuk buku ini. Kisah penutupnya itu lho... Terlalu indah untuk dikenang. Baca deh! 
:-)   

No comments:

Post a Comment