Monday, June 19, 2017

Belajar Caranya Belajar

Pertama-tama memang agak bingung setelah dapat tugas yang satu ini. Background saya yang nonkependidikan membuat saya tidak mengetahui tentang hal ini sebelumnya. Namun setelah saya googling saya mulai merasa excited.

Oh iya, ternyata ada cukup banyak model desain pembelajaran. Setelah membaca-baca, satu model desain pembelajaran yang cukup menarik menurut saya adalah model ADDIE. Model ini cukup simpel dan mudah untuk diterapkan. Ada 5 tahap dalam model ini,  yaitu:
  1. Analysis (analisis)
  2. Design (desain/perancangan)
  3. Development (pengembangan)
  4. Implementation (implementasi)
  5. Evaluation (evaluasi).

Dengan adanya desain pembelajaran ini, saya bisa menyeleksi mana hal yang prioritas dan mana yang tidak prioritas, bahkan mungkin mana hal yang sia-sia. Pertama, dalam tahap analisis ini, saya berusaha mengidentifikasi apa saja sebenarnya kebutuhan saya dan apa saja masalah yang dihadapi. Kemudian saya membuat analisis tugas yang harus dilakukan berdasarkan kebutuhan saya.

Memasuki tahap berikutnya, saya harus merumuskan tujuan pembelajaran yang terukur. Menurut saya, di sinilah poin perbedaannya dengan model pembelajaran saya di masa lalu. Dulu,  saya belajar tapi tidak terarah. Kalaupun terarah langkah-langkahnya, saya tidak memahami untuk apa saya harus mempelajari setiap langkah dari A sampai Z. Selebihnya hampir sama dengan metode pembelajaran saya di masa lalu.

Membuat desain pembelajaran ini susah-susah gampang. Susahnya ada di tahap analisa dan desain. Rasanya ingin memasukan semua hal sebagai hal yang harus dipelajari padahal belum tentu relevan dengan tujuan yang ingin saya capai. Walaupun begitu, membuat desain pembelajaran ternyata sangat seruuuu. Rasanya seperti mulai menjejak ke bumi setelah bermimpi di langit. Saatnya segera take action, melakukan satu persatu yang sudah saya tuliskan di dinding kamar saya😍😍😍😍😍 Namun demikian, saya sedikit melakukan penyesuaian dengan model ADDIE ini menjadi ADIED, haha... Singkatannya jadi agak jelek yah? Jadi urutannya analysis, design, implementation, evaluation, and development. Berdasarkan pengalaman, biasanya sambil jalan dan setelah dievaluasi baru muncul ide-ide baru untuk pengembangan. Kalau diterapkan pada nice homework yang lalu, pada KM 0 - 1 (tahun) saya memutuskan untuk belajar ilmu self management dan pengelolaan rumah tangga, maka saya harus membuat model desain pembelajaran untuk ilmu self management dan pengelolaan rumah tangga. Emmm... detailnya habis lebaran yah... Sekarang masih di tahap analisis apa saja yang mau dipelajari dan bagaimana, hehe :D Baca: Hasil Renungan: Kembali Fokus pada Cita-Cita Semula

Postingan-postingan berikutnya selama setahun ke depan insyaAllah akan banyak berhubungan dengan milestone saya di KM 0 - 1. Happy learning :)


Saturday, June 10, 2017

Hasil Renungan: Kembali Fokus pada Cita-Cita Semula

Dilema. Itu yang saya alami saat membaca tugas yang tertera pada Nice Homework (NHW) ke-4 nya kuliah (remedial) matrikulasi IIP. Apa pasal? Di NHW ke-4 ini, saya harus mereviu tugas-tugas terdahulu. Apakah sudah oke atau saya berubah pikiran? Sayangnya sampai dengan saat ini saya masih dilema di antara dua pilihan mengenai apa yang saya cita-citakan. 

Kalau baca NHW 1, saya ingin fokus di dunia penulisan. Menulis, menurut saya, bisa menjadi stress release yang tepat bagi saya. Ditambah saya suka dengan kegiatan membaca. Walaupun saya sekarang masih jarang menulis kembali, tetapi ketika mencoba membaca tulisan-tulisan yang pernah saya buat, saya jadi berpikir, "Oh, sepertinya saya ada bakat menulis". Hasil tes STIFIn saya pun menunjukkan demikian. Menulis adalah bidang yang cocok untuk saya geluti (Tentang tes STIFIn, semoga suatu saat saya bisa membahasnya di blog ini). 


Sedangkan di NHW 3, saya berencana memulai misi saya untuk fokus pada kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak-anak. Lebih tepatnya memulai dari kegiatan untuk anak-anak. Sebenarnya belum saya bahas detail di NHW saya, namun demikian arah yang saya maksudkan sudah berbeda dengan yang tertera di NHW 1. 


Lalu saya berpikir apa jadi seperti Teh Indari ya? Kenal Teh Indari Mastuti kan? Kalau belum, googling aja ya... Intinya beliau adalah seorang penulis dan pebisnis yang juga concern mendorong ibu-ibu untuk berbisnis dan menulis. Sekarang ini beliau bersama putrinya, Nanit, juga mulai menginisiasi sekolah-sekolah gratis dari rumah para ibu yang memiliki kesempatan untuk mewujudkan hal tersebut. Ah, semoga bisa mulai mengikuti jejak beliau dalam kebaikan yang manapun.

Setelah membadai kan otak (baca: brainstorming) beberapa saat, akhirnya... Eureka! Saya dapat jawabannya! Hmm... jawaban akhir saya sebenarnya nanti agak-agak mirip dengan yang dicontohkan pada saat materi, bagian milestone di mana hampir mirip dengan milestone Bu Septi Peni Wulandari. Tapi percayalah... Saya tidak bermaksud plagiat. Saya terinspirasi. Mungkin saking seringnya saya baca tentang beliau, jadi saya terikut semangat beliau. Semoga kelak bisa meneladani beliau juga. Aamiin.

Kembali ke pertanyaan NHW 4 kali ini ya.... Langkah pertama adalah saya harus mereviu NHW 1, di mana pada tugas tersebut ditanyakan jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini. Fixed! Jawabannya berubah. Saya memutuskan ingin menekuni dunia pemberdayaan perempuan dan anak-anak. Kenapa? Karena manusia terbaik menurut Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassalam adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Lalu kenapa perempuan dan anak-anak? Sederhana saja, karena keduanya merupakan subjek dan objek penting dalam pembangunan peradaban dan dunia itu dekat dengan diri saya. Laki-laki tentu saja juga komponen  penting dalam peradaban, tapi saya tidak banyak tahu dunia laki-laki. Sedangkan dunia anak-anak, saya merasa punya magnet dengan dunia anak-anak :) 

Langkah berikutnya adalah mereviu NHW 2 di mana saya harus membuat indikator checklist profesional bagi perempuan, sebagai individu, sebagai istri juga sebagai ibu. 


Nah, rencananya saya akan menyederhanakan indikator yang saya buat menjadi sebagai berikut:
  • Individu
         1. Sholat Tepat Waktu dengan target 100%
         2. Membuat dan melaksanakan kurikulum belajar untuk mencapai milestone (karena harus mikir dulu, insyaAllah ini akan saya jabarkan tersendiri) dengan target sementara pembuatan kurikulum belajar selesai maksimal bersamaan dengan selesainya pembelajaran di kelas matrikulasi IIP ini.

  • Istri
            Latihan menaati suami (sesuai koridornya ya... selama tidak melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, insyaAllah tetap sesuai koridor sih... kan suami sholih :)) dengan target 75% di dua bulan pertama dan target yang lebih tinggi pada waktu selanjutnya.

  • Ibu
           Merancang rencana pembelajaran untuk anak, target setiap pekan sekali merancang 1 bab pembelajaran (buat folder tersendiri)


Langkah  terakhir mereviu NHW 3 sekaligus menjawab pertanyaan utama pada NHW 4. 

Bidang yang ingin ditekuni: pemberdayaan perempuan dan anak-anak.
Peran : inspirator dan fasilitator
Agar lebih mudah mencapai misi hidup berikut milestone yang saya tentukan:

KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Belajar ilmu self management dan pengelolaan rumah tangga.
KM 1 - KM 2 (tahun 2) : Belajar ilmu manajemen keluarga

KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Belajar ilmu manajemen finansial dan aneka keterampilan (atau satu keterampilan tertentu yang bisa fokus saya ajarkan nantinya)
KM 3 – KM 4 (tahun 4 ) : Belajar ilmu komunikasi, termasuk menulis dan public speaking; bahasa; dan psikologi.


Bismillah... sebenarnya cita-cita ini sesuai dengan apa yang saya tulis pada saat kelas matrikulasi sebelum remedial. Saatnya kembali fokus pada apa yang dicita-citakan. Semoga bisa ikhlas, bersungguh-sungguh, dan konsisten dengan cita-cita ini. Aamiin :)



Friday, June 2, 2017

Proyek Menggenapi Tahun Menjadi Enam

Ada banyak alasan mengapa seorang laki-laki dan seorang perempuan memutuskan untuk menikah. Namun hanya satu alasan yang kuharap menjadi jawaban mengapa kau mengucap akad pada ayahku atasku. Karena Allah. Karena ridho Allah.

Allah Ta'ala adalah alasan yang sempurna bagi kita berdua untuk memantapkan hati memulai kehidupan baru. Cukup Allah saja. Semoga. Selalu.




Aku tak punya banyak kelebihan untuk menjadi istrimu. Masak tak pandai, berbenah tak cakap, pun melakukan pekerjaan rumah lainnya aku tak akrab. Meski berderetnya kurangku, semoga kebaikan dan keberkahan tak luput hadir dalam rumah tangga kita, itu saja yang mungkin kuharap.

Terima kasih telah menjadi suami yang sabar, yang pengertian, yang kocak (ini mungkin kalo di depan istri aja ya, hehe), yang bertanggung jawab, yang tepat seperti aku butuhkan. Benarlah, Allah tak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah pasti selalu memberi apa yang kita butuhkan. Sayangnya... bagiku, kamu adalah apa yang aku butuhkan dan inginkan *ciyeehh :p

Hampir enam tahun perjalanan berumah tangga kita. Berumah tangga adalah membangun rumah bersama sebagai tempat tinggal agar kelak kita bisa bersama menapaki tangga untuk menjadi lebih baik. Kita tidak membeli rumah, tapi kita membangunnya. Perlu bermacam proses dan waktu untuk membangun sebuah rumah yang indah -meski tak dipungkiri juga biaya, haha :D Tak seperti membeli rumah jadi yang kita tak tau bagaimana proses pembangunannya. Tahu-tahu sudah jadi dan kita tinggal menempati. Bukan, rumah tangga bukan untuk ditempati dan terima jadi. Berumah tangga selayak proses membuat bangunan, bangunan peradaban. Untuk kemudian ditempati oleh pemilik kaki-kaki mungil. Hampir enam tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka.. para penerus peradaban itu memang belum hadir dalam keluarga kita. Kita masih menanti dan menanti. Namun terima kasih telah mengizinkan dan membersamaiku untuk menjadikan episode menunggu menjadi lebih berarti.

***

Untukmu suami, terima kasih sudah percaya sebuah cita yang kupendam lama. Dengan restumu, dengan mengizinkan aku menanti melalui cara terbaik yang kuyakini... coming soon...
Rumah Peradaban -belum bernama- yang insyaAllah akan menjadi tempat belajar bagi anak-anak tetangga di sekitar. Yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tempat belajar bagimu dan bagiku untuk membangun peradaban. InsyaAllah...

Doanya ya, Kawans :) Bakda lebaran ini semoga kami masih ada umur dan Allah cukupkan rezekinya untuk mengeksekusi rencana ini. Rezeki harta, rezeki tenaga, dan utamanya rezeki waktu. Aamiin, Allahumma aamiin.


Suatu malam,
menjelang satu purnama lagi terlewati hingga penantian tahun kita genap menjadi enam.

02 Juni 2017

Friday, May 26, 2017

INDIKATOR ISTRI PROFESIONAL: Jadi Tukang Pijit!

Tahun 2017 ini bisa dibilang adalah waktu yang saya rencanakan untuk fokus mempersiapkan diri sebagai ibu. Setelah 5 –hampir 6- tahun pernikahan, saya merasa inilah saatnya program menjadi ibu harus lebih diseriusi. Tidak sekadar tentang program kehamilan, tetapi juga tentang program membangun peradaban. Al ummu madrasatul ‘ula kan?

Sehubungan dengan hal itulah, saya kemudian mengikuti program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) yang diselenggarakan secara online, yeaayyy!!! (tapi remedial karena sebelumnya saya belum memenuhi kualifikasi untuk lulus di program yang sama -_-"). Saat ini sudah memasuki pekan ke-2 pembelajaran.

Ada sedikit cerita di balik pengerjaan NHW ini. Supaya hasilnya lebih akurat, indikator yang akan disusun sebaiknya ditanyakan kepada para stakeholders. Berhubung stakeholders saya baru Pak Suami, maka saya tanyakanlah kepada Pak Suami istri apa sebenarnya yang beliau harapkan dari diri istrinya ini. Jawabannya adalah PIJIT, wkwkwkwk :P Hanya itu. Memang banyak yang mengakui kalau pijitan saya enak, wkwkwk. Eitss, disclaimer yang saya pijit semua perempuan ya… kecuali suami dan bapak saya. Kadang kalo sedang iseng ada teman yang kecapekan ato nggak enak badan, suka saya pijit meski sebentar. Nah, balik lagi ke harapan suami. Masa’ cuma berharap pijitan dari istri? Saya pun berusaha mengorek-ngorek harapan lainnya. Karena saya sedang dinas di luar kota, ya sudahlah ya… sulit sekali untuk mencari tahu apa saja sebenarnya harapan beliau pada saya. Berhari-hari memaksa via wa pun jawabannya masih berupa kode-kodean yang kemudian saya terjemahkan di dalam tabel indikator di bawah ini (untuk peran saya sebagai istri).

Nah, indikator yang lain… Itu semua merupakan hasil perenungan saya. Dan Voilaaa, ternyata indikator ini sangat sejalan dengan target-target saya untuk tahun 2017. Jadi lebih terbayang lah perbaikan apa yang harus saya lakukan di 2017 J

Yang utama tentu saja, lebih sering jadi Tukang Pijit Pak Suami, hehehe :D
Gakpapa lah ya, kalau ada penganut paham "istri idaman itu yang pinter masak buat suami", saya jadi penganut paham istri idaman suami saya saja, "Istri idaman itu yang rajin mijitin suami" hehe :P
Saya jadi nggak sakit hati gara-gara saya nggak pinter masak, hehe.
Nah, kalo kamu yang juga istri, yuk cari tau seperti apa istri idaman versi suamimu :)


CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

NB: checklist ini diisi mingguan :)

Friday, May 19, 2017

Belajar Menulis Lagi :)

Hello world!!

Ada yang kangen sama tulisan saya? Nggak ada kayaknya ya. Yang ada malah pada nanya, "Emang situ nulis apa?" *nyengir* :D

Oke, kali ini saya mau cerita kalau sebelumnya saya nggak lulus di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) karena hanya mengumpulkan sebagian PR saja dari sejumlah PR yang diberikan, hehe... Kebiasaan buruk banget ini mah, nggak tuntas kalau mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, kemudian saya memutuskan untuk ikut kelas Remedial MIIP. Berusaha menuntaskan sesuatu yang sudah saya mulai. Semoga kali ini bisa konsisten.

Seperti pada kelas MIIP, di kelas remedial ini pun Pe-eR mingguannya juga diberi nama NICE HOMEWORK (NHW). Pekan ini temanya adalah Adab Menuntut Ilmu. Seru lho belajar di MIIP. Sebenarnya sederhana saja yang kita pelajari tapi manfaat banget, insyaAllah. Tapi ya gituuuu deeeh. NHW-nya bikin mikiiiir *dengan nada Cak Lontong*

Dari pertanyaan pertama aja ya, bingung mau jawab apa. Ok, here we go!

1.    Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Di kelas MIIP (sebelum remedial) saya menjawab ilmu konsisten. Tapi setelah dipikir lagi, sepertinya jawaban saya berubah. Saya ingin menekuni ilmu di bidang penulisan. Entah kenapa tiba-tiba ingat dengan cinta pertama, dunia literasi.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin memiliki ilmu tersebut.
Selain karena alasan cinta pertama, saya sangat ingin memiliki ilmu tersebut karena saya merasa itu dunia saya. Walaupun yaaa.... walaupun... saya udah jarang nulis lagi. Tapi saya merasa menjadi diri saya sendiri saat saya bisa menulis, yang tidak sekadar menulis tentunya. Menulis yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Itulah kenapa saya merasa perlu mempelajari ilmu di bidang penulisan. Agar tulisan saya lebih memberikan manfaat kepada orang lain, baik karena kontennya maupun juga karena cara menulisnya.


3.    Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut.
Strateginya apa ya.... Yang pasti berlatih menulis (lagi) di blog. Me-review  materi-materi yang pernah saya ikuti sebelumnya di beberapa kelas penulisan. Saya itu bisa dibilang rajin ikut kelas online tapi jarang praktiknya. Tobat deh... Semoga momen Ramadhan ini bisa membuat saya makin rajin, hehe... Bukan apa-apa tapi saat Ramadhan, kerjaan kantor lumayan berkurang load-nya, mungkin...saya bisa berlatih menulis untuk urusan di kantor? Hmm... kita coba yaa... Oiya... tidak lupa juga harus banyak membaca :D

4.    Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Ini pertanyaan termudah, tapi menjalankannya paling susah.
a. Ikhlas

b. Bersungguh-sungguh
c. Konsisten (belajar dan berlatih).
Udah itu aja. Dikit kalimatnya tapi pastiiiii buanyaaaakkk yang harus dilakukan. Semangaaatttt!!!! :)

Mudahkan, Ya Allah....

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya :)


Tuesday, September 13, 2016

The Gogons: James & The Incredible Incidents


Judul                       : The Gogons, James & The Incredible Incidents
No. ISBN                 : 979-22-1977-3
Penulis                     : Tere Liye
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit           : 2006 
Halaman                  : 287 

***
Holaaaaaa, i'm coming back! Kali ini saya mau meresensi buku pertama dari salah satu novel berserinya Tere Liye, The Gogons: James & The Incredible Incidents. Tidak seperti buku-buku Tere Liye lainnya yang membanjiri toko buku karena selalu cetak ulang, buku ini mungkin hanya satu kali cetak karena sudah tidak beredar lagi di toko buku manapun. Kalau mau baca mungkin bisa cari second-nya atau seperti saya, yang baca karena pinjam, hehehe :D 

Buku ini bergenre novel metropop. Secara sederhana, novel metropop adalah novel-novel bertema kehidupan masyarakat urban atau masyarakat kota besar. Kalau pada suka baca novel chicklit, novel metropop ini bisa dibilang masih tetanggaan dengan chicklit. Bedanya, chicklit ditulis oleh penulis asing, sedangkan metropop ditulis oleh penulis lokal. Saya pribadi termasuk jarang baca novel jenis begini, baik chicklit maupun metropop. Faktor apalagi yang membuat saya membaca novel beginian kalau bukan karena penulisnyaaa, hahayyy :D Yes, saya memang doyan banget baca novel-novelnya Tere Liye. Alasan saya suka banget sama novel Tere Liye adalah karena di setiap novel yang ditulisnya pasti ada minimal satu prinsip atau satu makna yang ingin ditanamkan Tere Liye kepada pembacanya. 

Okeee, langsung aja kita bedah-bedah novel ini yaaaa. Awalnya saya bingung ngapalin tokohnya yang lumayan banyak. Padahal kan ngga wajib dihapal yak?!
Mereka awalnya berenam! Dipertemukan tak sengaja oleh takdir huruf pertama. Bertabiat laksana bumi dan langit. Berperangai bagai saputan pelangi. Bersahabat sejak sekujur tubuh kotor bau keringat, digebuki senior kampus kala Ospek enam tahun silam.
Ada James (tentu!), Ari, Azhar, Adi, Diar, dan Dito. Aslinya nama mereka semua berawalan A. Mereka menamai diri mereka The Gogons. Keseluruhan cerita menggambarkan persahabatan The Gogons dengan masalah mereka masing-masing. Masalah yang bisa dibilang tidak biasa. 

Bermula dari mimpi samar James dalam tidurnya berlanjut dengan kebahagiaan The Gogons atas pernikahan salah satu anggota geng mereka, Adi dengan Made. Kekompakan dan keseruan persahabatan ala The Gogons pun mewarnai kisah mereka. Sampai suatu ketika, James yang playboy tak sengaja bertemu dengan teman masa kecilnya. Setelah itu kejadian demi kejadian tak mengenakkan menimpa The Gogons. Diar dengan goresan luka masa lalu dan kesukaannya pada yang manis-manis yang ternyata kemudian membawanya pergi dari The Gogons. Dito, anak Betawi yang jatuh cinta pada Savanna, gadis bule asal Australia. Cinta yang sedemikian besar terhadap Savanna membuatnya melupakan teman-temannya dan membuatnya terpenjara. Azhar yang akhirnya mengungkapkan cintanya pada Dahlia setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Adi yang ternyata diam-diam memiliki masalah serius dengan pernikahannya. Tak terkecuali Ari yang ternyata merasa sangat terpukul dengan semua rentetan kejadian yang menimpa The Gogons hingga mengalami hal yang tidak pernah mereka bayangkan. Serta James yang resah hingga memutuskan mencari jejak teman masa kecilnya. Uniknya masalah yang menimpa The Gogons ini saling berkaitan satu sama lain, mengantarkan mereka pada jalan yang selama ini dicari James.

Membaca halaman demi halaman novel ini membuat saya deg-degan sendiri saking luar biasanya masalah-masalah The Gogons. Genre novel metropop yang identik dengan cerita yang ringan, tidak berlaku untuk novel satu ini. Kisah persahabatan The Gogons sangat menyentuh. Bahasa yang dipakai Tere Liye membuat saya ikut berada di antara keseharian The Gogons. Celetukan, candaan, dan kekonyolan yang khas Sahabat banget. Jadi membuat saya ingin bertemu dengan sahabat-sahabat sekolah saya dulu :D 

Namun tidak hanya kekonyolan dan keseruan khas Sahabat yang dibahas di sini, ada juga banyak kesedihan yang diceritakan. Yang paling menyedihkan dan tidak terduga adalah perginya salah satu anggota The Gogons. Pikiran saya yang mainstream mengatakan bahwa The Gogons pasti masih akan lengkap berenam sampai akhir seri berikutnya, ternyata tidak demikian. Hiks....

Oiya, bicara tentang makna yang ingin ditanamkan Tere Liye, saya menemukannya di bagian ini.

Pernahkah ada yang bilang kepada kalian bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang tidak penting -sekecil apapun kejadian itu? Semua kejadian yang ada membentuk rantai penjelasan yang melingkar, saling melilit. Sayangnya kita baru tahu dan menyadarinya setelah semuanya selesai dan sempurna membentuk lingkaran tersebut. Atau bahkan kita sama sekali tidak mengerti penjelasannya, meskipun keseluruhan kejadian tersebut sudah terangkai lengkap. -hal.50 
Pas banget dengan apa yang sedang saya rasakan pertama kali membaca novel ini. Kadang kita acuh dengan kejadian-kejadian kecil nan remeh, padahal bisa jadi kejadian tersebut menjadi salah satu alasan terjadinya kejadian yang besar dalam hidup kita. Hal tersebut dipertegas pada bagian ending-nya.
James menatap bingung. Ari persis menunjuk wajahnya. Ari menatap teramat dalam. Gerakan merontanya mendadak terhenti. Dia mencengkeram jeruji besi hingga tulang-tulang jemarinya kelihatan. Kemudian berbisik lemah sekali. "James! Lihatlah, demi masa lalumu, kami semua harus mengalami semua ini!" -hal. 285
Hayooo, penasaran ceritanya kan?

Dengan segala kelebihannya, pasti ada juga kekurangannya. Hal yang paling bikin saya males dengan novel ini sebenarnya kisah cinta Azhar-Dahlia yang drama banget seperti kisah cinta kebanyakan. Mungkin karena ekspektasi saya yang begitu tinggi kepada Tere Liye membuat saya berpikir harusnya ceritanya beda nih, hehehehe.... *dasar, pembaca tukang protes!* Tapi kekurangannya sedikit tertutupi dengan cara Tere Liye menggali emosi pembaca melalui dialog hati antara  Azhar dan Dahlia. 

Hal lain yang bikin nggak sreg adalah, "Bang Tere, kapan dimunculin lanjutannya???" Hehe, pengen baca lanjutannya nih. Tetapi nampaknya -menurut tebakan saya- Tere Liye tidak akan membuat lanjutannya sebelum merevisi seri pertama The Gogons. Pertanyaan berikutnya, apakah Tere Liye akan merevisi seri pertama The Gogons? Saya rasa tidak.

Overall, 
saya rasa novel ini cukup layak untuk dibaca. Kalau ada kesempatan membacanya, sok atuh dibaca :) Buku ini lumayan menghilangkan penat setelah lama berpikir di kantor maupun di sekolah. Empat dari lima bintang saya persembahkan untuk The Gogons: James & The Incredible Incidents. Sebelum membaca, saya ucapkan selamat penasaran dan selamat berburu bukunya! :D